Langit Biru : Asa dan Realita

Cr : BigHit

Beberapa waktu lalu foto langit Jakarta yang bersih dan berwarna biru menjadi viral. Pemandangan langka ini berhasil diabadikan seorang warganet pada libur lebaran 2017 silam.

Perbandingan Lanskap Jakarta Periode Lebaran 2017 (Foto : Amadeus Prabowo)

Foto : Amadeus Pribowo

Banyak pihak menjadikan hal ini sebagai indikator positif bahwa polusi di Jakarta mengalami penurunan signifikan dengan kualitas udara yang membaik. Mereka juga positif menduga langit biru akan menjadi pemandangan sehari-hari kota Jakarta. Namun, benarkah demikian faktanya?

Jakarta dan Asa Langit Biru
Air Quality Index (AQI) adalah indeks yang melaporkan kualitas udara harian dengan menunjukkan seberapa bersih atau tercemar udara di suatu daerah. Observasi dilakukan salah satunya dengan alat pemantau kualitas partikel udara PM 2.5. Instrumen dipasang di kantor Kedubes Amerika Serikat daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Alat ini secara kontinu merekam data kualitas partikel udara kota Jakarta dan melaporkannya di situs AirNow.

Nilai AQI Kota Jakarta Periode Lebaran

Seperti terlihat pada grafik yang diambil dari laman AirNow diatas, nilai AQI mengalami penurunan drastis selama tanggal 26-27 Juni 2017 dan menjadi capaian terbaik sepanjang tahun. Namun beberapa hari kemudian, nilai ini kembali meroket dan berada pada zona merah. Langit Jakarta kembali menjadi kelabu dan kehilangan warna birunya, sebagai penanda kualitas udara yang kembali mengkhawatirkan.

Nilai AQI Jakarta sehari-hari yang tinggi menunjukkan tingkat pencemaran udara yang juga tinggi. Menurut jurnal LAPAN, pencemaran udara memberi dampak yang sangat buruk terhadap kesehatan manusia, flora, dan fauna. Lebih jauh disebutkan, polusi dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem global dan mengancam keberlangsungan kehidupan di bumi.

Ambil contoh China yang merupakan negara dengan nilai AQI terburuk di dunia. Pada 2016 silam, kota Beijing mencatatkan rata-rata nilai AQI harian sebesar 434, dengan capaian tertinggi mencapai 755. Menurut World Health Organization, rata-rata konsentrasi polutan di kota Beijing mencapai 600 mikrogram/m3. Padahal batas aman yang diperbolehkan hanya 25 mikrogram/m3 saja. Polutan kemudian menjelma menjadi kabut asap (smog) yang menutupi negeri tirai bambu ini.

Time Lapse Smog di China

Kondisi di Distrik Pudong, Shanghai pada 21 Januari 2013 (Cr)

Smog merupakan mimpi buruk bagi China. Tak hanya berbahaya bagi penduduk China, smog juga berbahaya bagi stabilitas perekonomian negeri panda tersebut.

Efek Buruk Smog bagi Kesehatan

Smog Menyebabkan Kerugian Ekonomi yang Tidak Sedikit

Udara bersih menjadi sebuah impian dengan harga teramat mahal bagi penduduk China. Langit biru pun menjadi pemandangan yang luar biasa langka terlihat.

Mahalnya Udara Bersih di China

Sebuah Layar Besar Menampilkan Gambar Langit Biru di Tiananmen Square, Beijing pada 23 Januari 2013 (Cr)

Perang melawan smog di China terus berlangsung hingga detik ini. Meski otoritas China menggelontorkan dana sebesar 1,7 triliun yuan (atau hampir Rp 3500 triliun), banyak pihak tetap merasa pesimis untuk berhasil memenangkan perang ini. Pasalnya, emisi gas buang kendaraan bermotor merupakan penyebab utama indeks AQI begitu buruk.

Sumber : Peking University

Indeks AQI kota Jakarta memang tidak seburuk China. Kualitas udara di Jakarta pun jauh lebih baik dibandingkan negeri panda tersebut. Namun bukan berarti kita bisa acuh terhadap isu ini. Jika dibiarkan, kondisi Beijing sekarang akan menjadi potret suram masa depan Jakarta. Langit biru akan menjadi sekedar asa, yang kehadirannya tak bisa disaksikan langsung oleh anak cucu kita.

Proyek Langit Biru Pertamina
          Pertamina sebagai salah satu penyumbang lifting terbesar di Indonesia sebenarnya telah mengambil tindakan preventif dan solutif mengenai isu emisi gas buang dari jauh hari. Tindakan konkrit dilakukan melalui mega proyek PLBC (Proyek Langit Biru Cilacap) yang dilakukan di Refinery Unit IV Cilacap. 

Penjelasan PLBC Pertamina. (Dari Berbagai Sumber)

Melalui PLBC, Pertamina berusaha men-supply lebih banyak RON 92 atau pertamax yang merupakan bahan bakar ramah lingkungan bagi masyarakat. Ini merupakan salah satu cara Pertamina merealisasikan komitmennya untuk terus menjaga kelestarian lingkungan sebagai upaya menjamin udara bersih dan langit biru tetap bisa dinikmati secara bebas oleh generasi mendatang. Bahkan dalam proses pembangunan PLBC pun Pertamina berupaya maksimal dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan program reboisasi sejumlah pohon yang ditebang.

Berbagai Proyek "Hijau" Pertamina yang telah dan sedang berlangsung.

Tak hanya itu, PLBC juga merupakan puzzle penyusun picture besar yang ingin diraih Pertamina. Pertamina menargetkan diri untuk tidak lagi melakukan impor BBM pada tahun 2023. Dengan begitu, Indonesia akan mampu mandiri dan berdaulat energi.

Master Plan Pertamina. Klik untuk memperbesar gambar.


Jadikan Langit Senantiasa Biru Sebagai Realita
          #GenLangitBiru merupakan generasi milineal penerus bangsa dimana beban perjuangan menjaga bumi diletakkan di pundaknya. Mereka adalah kita, para pemintal asa. Karakteristik fundamental yang harus kita miliki adalah arif dan bijaksana. Kita juga perlu visioner, dengan melihat jauh ke depan akibat dari pilihan yang kita ambil sekarang.

Realisasi dari kedua sifat tersebut dilakukan dengan memilih bahan bakar yang tepat untuk kendaraan kita. Hal ini sangat krusial mengingat emisi gas buang hasil pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya pencemaran udara, yang tergambar dari nilai AQI. Agar nilai AQI rendah, konsentrasi polutan di udara juga harus rendah.

Pertamina telah memfasilitasi kita dengan kehadiran pertamax. Bahkan melalui PLBC, Pertamina berupaya menjamin ketersediaan bahan bakar ramah lingkungan tersebut. Dengan memilih pertamax sebagai bahan bakar kendaraan bermotor, kita telah berkontribusi positif dalam upaya meminimalisir kadar emisi gas buang ke udara. Dengan begitu polusi di Jakarta (dan Indonesia) akan benar-benar mengalami penurunan, yang nantinya terlihat dari nilai AQI yang rendah. Udara yang kita hirup akan memiliki kualitas yang paripurna dan langit biru pun akan menjadi pemandangan indah yang bisa kita temui setiap harinya.


Penjelasan rinci RON 92 atau Pertamax. Klik untuk memperbesar. (Dari Berbagai Sumber)


Meski mengeluarkan uang lebih, sejatinya kita telah melakukan investasi yang jauh lebih besar lagi bagi peningkatan kualitas hidup dan lingkungan kita. Dengan selisih hanya sekitar 2000 rupiah per liter (yang bahkan buat beli mie cup aja gak bisa), kita telah memberikan kesempatan emas bagi anak cucu kita mendatang untuk menjadi bagian dari peradaban dimana udara bersih dan langit biru menjadi realita yang menemani setiap hari.


#GenLangitBiru (Cr)



Komentar

Postingan Populer