Menempa Diri dan Merajut Mimpi di UMP


Kak, rekomen kampus bagus dong.
Kak, mau kuliah di Jawa Tengah deh. Dimana tapi ya?
Bingung nih kak abis ini mau kemana. Bantuin apa kak!
Kakak guru, anak saya masih belum bisa menentukan akan ke universitas mana. Bisa tolong beri saran?

            Selama empat tahun terakhir, aku yang berkecimpung di dunia pendidikan dan berhadapan langsung dengan siswa kelas 12, selalu ditodong dengan pertanyaan yang intinya kurang lebih sama. Aku selalu diminta merekomendasikan kampus bagus untuk melanjutkan studi. Dan selama empat tahun juga, jawabanku selalu solid. Tak pernah berubah. Aku selalu mengatakan : “Coba deh masuk UMP.”



            Usulan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) bukan sekadar usul yang asal. Sebelum memberi jawaban, aku sudah terlebih dahulu menghabiskan sekitar 43.200 menit lebih berselancar menyusuri portal jurnal, artikel ilmiah, buku dengan format epub serta berita dari sumber yang terverifikasi untuk mencari kriteria dan karakteristik yang dimiliki kampus ideal. Pencarian yang melelahkan mata tersebut berujung pada satu kesimpulan : UMP pilihanku. Untungnya selama melakukan riset ecek-ecek, kantongku tidak ikut lelah thanks to wi-fi gratis yang didapat dengan modal secangkir kopi saja.

            Kembali ke topik. Berikut akan aku jabarkan hasil pencarianku tentang kriteria kampus ideal yang secara objektif dimiliki oleh UMP. Penjabaran ini sekaligus menjadi alasan mengapa aku sungguh gigih menyarankan UMP kepada siswa ujung kelas 12 sebagai tempat melanjutkan studi.



            Kuliah memakan waktu yang tidak sebentar. Di Indonesia, program studi S1 berlangsung selama 3,5 sampai 6 atau 7 tahun. Dan selama itulah, kampus akan menjadi bagian dari rutinitas seorang mahasiswa. Disinilah mengapa kenyamanan perlu hadir. Selayaknya hubungan dua insan, rasa nyaman akan membuat rutinitas menjadi tidak membosankan apalagi membebani. Pun demikian dengan kuliah. Dalam beberapa jurnal disebutkan, rasa nyaman akan memberikan motivasi dan semangat tersendiri bagi mahasiswa untuk datang ke kampus dan melakukan lebih banyak kegiatan positif. Tak berhenti sampai disitu. Rasa nyaman juga akan menciptakan “klik” alias chemistry serta rasa memiliki yang dalam, yang pada akhirnya akan berujung pada cinta. Jika sudah cinta, seorang mahasiswa tidak akan tega melakukan hal buruk yang sekiranya dapat mempermalukan dan merusak citra almamaternya.

            Pertanyaannya, bagaimana sebuah kampus bisa menciptakan chemistry  tersebut?

Jawabannya sungguh variatif. Namun dari beberapa buku yang kubaca, para ahli setuju bahwa kampus tersebut setidaknya memiliki lokasi yang strategis, ukuran yang memadai, lingkungan yang kondusif, serta ketersediaan sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran dengan baik.

Ya kalau aku mah setuju bahwa UMP memiliki semua hal tersebut. Kamu juga kan?




Para penganut teori human capital setuju bahwa pendidikan merupakan investasi yang memiliki manfaat moneter dan non-moneter. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis berupa tambahan pendapatan seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya. Sedangkan manfaat non-moneter adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih lama karena peningkatan gizi dan kesehatan. Gampangnya, menurut Barro (1991) investasi pendidikan akan terbayarkan oleh pendapatan dan kehidupan yang baik di masa depan.
         
Sayangnya, sama seperti instrumen investasi lain, seseorang bisa saja tertipu dengan pendidikan jenjang perguruan tinggi ini. Seorang investor bisa saja sudah membayar modal mahal namun tidak mendapatkan imbal balik sebesar yang diharapkan. Atau membayar murah namun ternyata investasinya bodong. Investasi pendidikan juga bisa mengalami nasib yang serupa. Seseorang bisa saja sudah membayar biaya operasional yang besar namun rupanya tidak mendapatkan manfaat yang diinginkan. Atau karena tergoda mahar uang pangkal yang murah, seseorang tidak sadar bahwa ternyata kampusnya abal-abal.

Karena alasan itulah, kita sebagai investor harus pintar-pintar memilih kampus berkualitas yang biaya pendidikannya rasional. Misalnya dengan memilih UMP.




          Dunia saat ini tengah menghadapi perubahan tatanan kehidupan dalam era baru : Revolusi Industri 4.0. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab. Ekonom terkenal asal Jerman tersebut menulis dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution, bahwa konsep itu telah mengubah hidup dan kerja manusia yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Sebentar lagi, segala aspek dalam kehidupan manusia akan mengalami digitalisasi dan otomatisasi. Perubahan pola ini akan berdampak pada terciptanya jabatan dan keterampilan kerja baru serta hilangnya beberapa jabatan lama karena sudah tidak relevan lagi dalam dunia kerja. Memasuki era baru ini, perguruan tinggi dituntut untuk dapat menciptakan SDM yang kreatif, handal, tangguh, dan responsif dengan tantangan nasional serta global.

Salah satu kampus yang kredibel dalam menciptakan lulusan yang bermutu dan relevan dengan perkembangan zaman adalah UMP.


Hebatnya, tak hanya jago dalam menempa akademis mahasiswanya, UMP juga memiliki segudang program, seminar, dan kegiatan lain yang gunanya mempersiapkan mental lulusannya agar memiliki karakter terbaik dan siap menyongsong perubahan masa depan. Hal ini selaras dengan pernyataan Jack Ma dalam Annual Meeting WEF di Davos pada 2018 silam bahwa mengajarkan nilai, keyakinan, pemikiran yang independen, kerja sama, dan kepedulian adalah bagian dari visi pendidikan ke depan agar manusia bisa bersaing dengan robot.




          Universitas adalah gerbang awal sebelum seseorang memasuki dunia kerja dan merupakan fase awal di kehidupan-pasca-SMA. Akan ada banyak hal baru untuk dipelajari dan lebih banyak kegiatan untuk dieksplorasi. Akan ada masa-masa sulit dan berat, karena memang dunia kampus tak seindah di FTV yang mahasiswanya datang telat tapi boleh pulang sebelum dzuhur.

Tapi tenang saja, dengan memilih kampus yang tepat, semua masa sulit akan terlewati dan terbayar lunas pada akhirnya. Kuulangi sekali lagi biar semakin jelas ya guys. Dengan memilih UMP yang fasilitasnya paripurna dan pengajarnya piawai, semua masa sulit akan terlewati dengan lebih mudah dan akan terbayar lunas pada akhirnya. Seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Ditempa di UMP dahulu, meraih sukses kemudian.

Trust me. Apapun cita-citanya, semua kisah sukses itu bermula di UMP.




Referensi Tulisan
https://banyumasnews.com/100886/ump-bertekad-menjadi-world-class-university-apa-saja-yang-dilakukan/
https://edukasi.kompas.com/read/2015/01/21/14462281/Ini.Syarat.Menjadi.World.Class.University
https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1172086.pdf
https://journal-bmp.de/2015/12/auswirkungen-von-industrie-4-0-auf-menschliche-arbeit-und-arbeitsorganisation/?lang=en
https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0192429
https://satelitpost.com/regional/purwokerto/ump-siap-menuju-world-class-university
https://www.researchgate.net/publication/328829853_A_Scoping_Review_on_Digital_English_and_Education_40_for_Industry_40
https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00220671.1970.10884029
https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/10668920903527126
https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/07294360903244398
https://www.ump.ac.id/Berita-1275-5.Fasilitas.Keren.di.UMP.yang.Kamu.Harus.Tahu.html
https://www.ump.ac.id/Laporan%20Khusus-1069-UMP.Siapkan.Beasiswa.Fakir.Miskin.dan.Yatim.html
https://www.ump.ac.id/Laporan%20Khusus-920-Mantapkan.World.Class.University.html
Robert J. Barro. The Quarterly Journal of Economics, Volume 106, Issue 2, 1 May 1991, Pages 407–443, https://doi.org/10.2307/2937943

Referensi Gambar :
Foto kegiatan mahasiswa dan kondisi kampus diambil dari ump.ac.id, diakses pada 20 Februari 2019
Gif dan template infografik dari freepik

Komentar

Postingan Populer