Siap-siap, Tahun Ajaran Baru Generasi Alfa Mulai Datang!

Analis social demograf  Mark McCrindle dalam makalahnya Beyond Z: Meet Generation Alpha menyebut anak-anak yang lahir setelah tahun 2010 merupakan Generasi Alfa atau Gen-A. Generasi ini merupakan digital-native yang berarti mereka lahir dan besar di era digital. Teknologi dan internet bukan lagi kebutuhan sekunder atau tersier bagi mereka. Lebih dari itu, teknologi akan melekat erat dan menjadi bagian dari keseharian Generasi Alfa ini.

Dalam makalah yang sama, McCrindle memprediksi setidaknya 2,5 juta Generasi Alfa akan lahir setiap minggunya. Angkatan pertamanya akan genap berusia 7 tahun di 2018 mendatang. Di Indonesia, angkatan pertama ini akan mulai memasuki bangku sekolah dasar di tahun ajaran 2018/2019.

Ahli perilaku konsumen Alexandra Broennimann menyatakan Generasi Z, yang merupakan generasi tepat sebelum Generasi Alfa, memiliki kemampuan konsentrasi dalam keterlibatan secara pasif sekitar 8 - 12 menit saja. Diprediksi, Generasi Alfa akan memiliki pola perilaku yang sama atau bahkan memiliki kemampuan kurang dari itu. Kegiatan belajar mengajar yang pasif semisal duduk diam saja sembari membaca buku di dalam kelas akan terasa berat bagi Generasi Alfa. Sedari kecil, mereka lebih terbiasa membaca dengan perangkat lunak diiringi musik atau video. Tulisan yang dibaca pun sekedar potongan paragraf pendek seperti pada media sosial. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para guru untuk melakukan revolusi besar terhadap metode belajar yang digunakan agar mampu menarik minat peserta didik yang digital-native. Antusiasme peserta didik perlu dijaga agar kegiatan belajar mengajar menjadi proses yang menyenangkan. Dan pada akhirnya tujuan negara untuk memperoleh mutu lulusan yang berkualitas akan mampu tercapai dengan mudah.


E-learning dan Generasi Alfa

The ILRT of Bristol University (2005) mendefinisikan e-learning atau electronic learning sebagai penggunaan teknologi elektronik untuk mengirim, mendukung serta meningkatkan pengajaran, pembelajaran dan penilaian. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan PLATO. Dalam aplikasinya di Indonesia, metode ini hanya diidentikan dengan e-learning berbasis web. Sebuah metode pembelajaran disebut e-learning jika didukung oleh sebuah situs yang terintegrasi. Misalnya saja pranala https://scele.ui.ac.id/. Laman ini digunakan ribuan mahasiswa Universitas Indonesia setiap harinya untuk mengunduh materi kuliah, melakukan diskusi, mendapatkan informasi terkini terkait seminar dan lomba, melihat perubahan jadwal kelas tiap semesternya, mengecek nilai-nilai, mengumpulkan tugas dan bahkan hal sepele seperti mengerjakan kuis serta tugas mingguan. Model e-learning berbasis web seperti inilah yang menjadi standar kesuksesan e-learning untuk tiap jenjang pendidikan di Indonesia.

Dilihat dari pelaksanaannya, metode e-learning berbasis web yang serba daring dan real-time sangatlah menguntungkan jika digunakan untuk mengajar siswa Generasi Alfa. Pertama, kegiatan belajar yang dilakukan secara daring menjamin efektifitas pembelajaran bagi siswa. Siswa bisa langsung melakukan pencarian di internet jika dirasa penjabaran yang diberikan oleh guru kurang maksimal. Siswa bahkan bisa mengakses video tutorial di mana saja dan kapan saja jika ingin memperdalam materi pelajaran yang menarik minatnya. Kedua, metode e-learning yang sifatnya real-time akan menjamin efisiensi waktu dan tenaga. Siswa bisa mulai mempelajari bahan ajar jauh hari sebelum guru di sekolah menerangkan. Terakhir, metode semacam ini mampu meminimalisir biaya yang harus dikeluarkan oleh siswa dalam proses pembelajaran. Siswa tidak perlu repot membeli banyak buku tulis kosong setiap tahun ajaran baru. Siswa bahkan tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk pergi ke rumah teman yang lokasinya jauh guna melakukan diskusi kelompok.

Walau terlihat sempurna, seabrek masalah muncul ketika metode e-learning berbasis web hendak diterapkan di tingkat pendidikan dasar. Kurangnya sarana dan prasarana di sekolah, murid yang belum pandai mengoperasikan komputer, guru yang tak mahir membuat laman situs, sampai nihilnya biaya untuk pengadaan server. Ujungnya, banyak pihak berpendapat metode ini tidak cocok diaplikasikan di jenjang sekolah dasar. E-learning kemudian ditinggalkan sama sekali.

Sebenarnya solusi atas semua hambatan terkait e-learning bisa dengan mudah ditemukan jika paradigma masyarakat Indonesia sedikit diubah. Buang jauh jauh pandangan bahwa metode e-learning hanya bisa diaplikasikan jika didukung oleh web yang mumpuni. Pasalnya para ahli tidak menyempitkan penerapan e-learning dengan  ketersediaan suatu situs saja. Definisi yang diberikan sebelumnya menyebutkan e-learning menggunakan teknologi elektronik dalam penerapannya. Berarti segala jenis gadget, yang notabenenya merupakan teknologi elektronik, dapat digunakan dalam optimalisasi proses pembelajaran metode e-learning.

Gadget hadir dalam berbagai bentuk. Namun yang paling populer karena praktis dan murah harganya adalah ponsel pintar atau smartphone. Smartphone memungkinkan penggunanya untuk melakukan banyak hal sekaligus; mengetik dan membuat slide presentasi, mengirim email dan mengakses internet, mengambil gambar sekaligus melakukan editing, sampai berkirim pesan dan melakukan panggilan suara serta video secara gratis. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia akan mencapai lebih dari 100 juta orang. Bandingkan dengan jumlah siswa sekolah dasar di Indonesia yang menurut BPS sekitar 26 juta anak saja. Dari data ini, bisa ditarik hipotesis bahwa anak anak di Indonesia pada 2018 mendatang akan memiliki dan menggunakan smartphone secara mandiri. Berdasar pada hipotesis ini, optimalisasi kegiatan pembelajaran bagi Generasi Alfa yang digital-native dapat dilakukan dengan mengembangkan e-learning berbasis smartphone.
Eksekusi e-learning berbasis smartphone tergolong mudah. Terlebih dahulu pasang aplikasi pengirim pesan online yang tersedia secara gratis seperti WhatsApp atau Line. Kemudian buat grup kelas yang berisi murid di kelas terkait beserta guru pengajarnya. Semua hal yang bisa dilakukan oleh SceleUI bisa dilakukan melalui grup tersebut tanpa perlu megeluarkan biaya tambahan. Pertama terkait materi. Guru bisa mengunggah materi pelajaran sebelum mulai belajar di kelas, sehingga murid bisa mengunduh dan mengakses file tersebut kapan pun di mana pun. File yang diunggah bisa berupa teks biasa, suara, gambar, gif  (gambar bergerak), presentasi, tabel excel bahkan video. Kemudian terkait tugas dan pekerjaan rumah. Dengan metode e-learning berbasis smartphone, pembelajaran bisa dilakukan secara dinamis di mana saja namun tetap terkontrol. Misalnya saat pelajaran IPA, guru bisa membagi kelas dalam kelompok kecil dan membebaskan siswanya melakukan observasi di sekitar sekolah. Diskusi real-time tetap bisa berlangsung tanpa harus tatap muka. Laporan observasi pun bisa langsung diunggah untuk diperiksa oleh guru, tanpa resiko hilang saat pengumpulan. Metode e-learning semacam ini juga memungkinkan guru melakukan validasi tugas yang dilakukan oleh siswa. Contohnya tugas wawancara bahasa Indonesia dapat dikumpulkan dengan format video untuk memastikan siswa tidak melakukan wawancara fiktif. Yang terakhir terkait efektifitas informasi. Pengabsenan siswa dan administrasi terkait perijinan dapat disampaikan melalui grup kelas. Informasi siswa sakit atau adanya proposal  kegiatan sekolah dapat dengan cepat terinformasikan dan memungkinkan siswa dan guru untuk melakukan tindakan lanjutan yang diperlukan sesegera mungkin.

Selain yang telah disebutkan, metode e-learning berbasis smartphone memiliki beberapa keunggulan lain yang tidak dimiliki metode e-learning berbasis web. Pertama, siswa tak perlu takut grup kelas tak bisa diakses karena aplikasi nya down. Kedua, siswa tidak perlu khawatir jika file berisi materi yang telah diunduh tak sengaja terhapus. Aplikasi Whatsapp dan Line punya fitur yang memungkinkan penggunanya untuk melakukan back-up data. Tak hanya oleh siswa, kelebihan metode belajar ini juga bisa dirasakan langsung oleh pihak sekolah. Tidak perlu biaya pengadaan server. Tidak perlu memanggil tenaga ahli untuk membuat dan mengembangkan situs. Tidak perlu pelatihan rumit dan memakan waktu mengenai algoritma bagi para guru yang tidak melek teknologi. Dan yang paling penting, metode e-learning berbasis smartphone tidak membebani APBN pendidikan Indonesia. Sehingga APBN bisa dialihkan untuk hal-hal yang lebih krusial lainya.

Komentar

Postingan Populer