Galuh Mas : Jantung bagi Karawang, Nyawa bagi Negeri



Kring kring!

Bunyi ringtone smartphone yang seperti dering sepeda terdengar nyaring saat aku sedang makan malam sendirian di ruang keluarga.

Kring kring! Kring kring! Kring kring!

Dering sepeda terus terdengar. Didorong oleh rasa setengah bete karena keberisikan dan setengah penasaran, aku segera meraih handphone untuk mengecek pesan yang masuk. Rupanya Mawar, salah satu teman dekatku, mengirimkan link berita ekonomi di grup whatsapp. Isi beritanya agak panjang, tapi sebenarnya sorotan yang ingin dibahas Mawar pendek saja. Menurutnya, sektor properti memiliki efek berantai (multiplier effect) serta backward dan upward linkage yang cukup besar terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya. Temanku yang lain sudah heboh menanggapi Mawar dengan komentar ala ekonom handal. Karena bahasannya agak berat dan aku belum selesai makan, aku lebih memilih untuk tidak terlibat diskusi. Aku hanya scroll saja untuk membaca pesan yang masuk.

Namun tiba-tiba perhatianku tertuju pada pesan yang dikirim Anggrek yang ditulisnya dalam huruf cetak tebal dan miring. Diikuti sederet emoji. Dramatis bener emang si Anggrek jadi orang. Untung sohib aku, makanya aku maklumin.


Sehabis makan, aku segera menyalakan laptop untuk mencari keabsahan pernyataan Anggrek. Didukung oleh wifi hasil maksa minjem modem adek dan google sang sahabat skripsi mahasiswa, aku berhasil nemuin data yang rupanya mendukung pernyataan Anggrek. Ya benar, Galuh Mas memang punya andil besar dalam mengembangkan Karawang.

Well karena aku baik hati, melalui postingan ini aku akan share data dan fakta yang udah aku temuin tentang Galuh Mas tadi. Biar semua yang baca juga tahu keabsahan pernyataan Anggrek. Niat aku? Satu, mau bagi ilmu baru yang aku dapat.


Dua, yaaaa barangkali jadi ada yang pengen kenalan sama Anggrek karena dia wanita cerdas dan berpengetahuan luas. Kasian Anggrek, dia pengen buru-buru duduk di kursi pelaminan tapi teman duduknya belum ada. Hehe, dearest Anggrek no offense yaaa.



Tak kenal maka tak sayang. Pepatah tua yang cliche tapi mengena banget. Sebelum bahas mengenai peran Galuh Mas dalam mengembangkan Karawang (dan mengembangkan Indonesia), kita kenalan dulu yuk sama Galuh Mas.


Kalau udah kenal, waktunya kita sayang-sayangan deeeh. 

Eh belum deng. Sekarang aku mau memaparkan fakta terkait Galuh Mas dulu. Biar semua yang baca jadi sayang sama Galuh Mas.



Niatnya mau bikin clickbait “6 Fakta Galuh Mas. Fakta Nomor 3 Bikin Netizen Terkejut” tapi nanti aku dihujat warganet. Ntar aku harus matiin comment IG. Huhu ku tak mau. Aku ganti judul deh akhirnya.


Ayo kita main hitung hitungan.

Pertama, kita akan hitung jumlah pekerja yang dibutuhkan dalam proses pembangunan Galuh Mas. Aku tidak berhasil menemukan data valid yang dirilis pihak developer Galuh Mas sih, tapi kalau berdasar jurnal ini kita bisa kok menghitung jumlah kasar pekerja yang dibutuhkan. Mainnya jurnal nih aku, gak asal ngomong.


Itu baru proses pembangunan. Sekarang kita hitung jumlah pekerja yang terserap ketika proyek sudah selesai.


Kalau dikalkulasi secara kasar, sejauh ini Galuh Mas berhasil menyerap lebih dari 9 ribu pekerja. Ini baru hitungan kasar ya. Angka riil di lapangan bisa jauh lebih besar lagi. Aku belum menghitung profesi terkait semisal arsitek, desainer interior, kontraktor, landscaper, property agent, notaris, maupun pihak perbankan. Kalau digabung, perkiraan jumlah pekerja yang terlibat bisa sampai 11 ribu orang.

Apa ini penting?

Banget!

Angka 11 ribu tuh bukan sekedar statistik tak berarti. Coba deh bayangkan ada 11 ribu orang yang berhasil terbebas dari kemiskinan karena memperoleh pekerjaan yang layak. Bayangkan ada 11 ribu orang yang bisa memiliki gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan nya secara mandiri. Bayangkan ada 11 ribu orang yang hidupnya jadi lebih sejahtera sehingga bisa mengurangi angka kriminalitas. Lebih jauh, bayangkan ada 11 ribu pekerja produktif yang aktif membangun Indonesia.

Wow Galuh Mas. Just wow!


Buat yang belum tau, dahulu Karawang dikenal sebagai lumbung padi nasional. Sekarang, identitasnya berubah mengikuti era industrialisasi. Worry not, ini wajar mengingat identitas sebuah kota yang sedang berkembang biasanya mengalami perubahan.

Galuh Mas boleh jadi merupakan salah satu katalis yang mempercepat perubahan Karawang. Tentunya ke arah yang lebih baik. Jika dulu Karawang dipenuhi oleh sawah, maka Galuh Mas berhasil menghadirkan fasilitas hiburan yang lengkap seperti bioskop, waterpark, sirkuit balap motor, arena pameran otomotif, dan bahkan hotel bertaraf internasional semisal Hotel Mercure. Galuh Mas juga memiliki RSUD Karawang yang notabene nya merupakan rumah sakit terbesar di Jawa Barat.

Keberadaan fasilitas selalu diikuti ekspektasi yang semakin tinggi dari masyarakat luas. Dampak langsungnya bisa terlihat dari harga atau nilai properti di suatu kawasan yang akan terus naik. Data terakhir yang berhasil aku himpun menyatakan harga tanah di kawasan Galuh Mas telah melampaui Rp 6 juta per meter persegi, sementara untuk komersial sudah di atas Rp 17-an juta per meter persegi. Karena harganya akan terus melejit, beberapa pihak seperti masyarakat kelas menengah keatas di Indonesia melihat hal ini sebagai instrumen investasi. Menurut BPS, jumlah masyarakat yang memenuhi kriteria ini mencapai 56% atau lebih dari 100 juta orang. Masyarakat ini merupakan potensi yang sangat besar bagi Karawang mengingat investasi akan berimbas langsung dengan pajak.

Pajak ini gak main-main loh. Berdasar data resmi yang dirilis, besar pemasukan daerah Karawang dari pajak pada tahun 2015 saja mencapai Rp100 milyar lebih. Dana ini salah satunya dimanfaatkan untuk membiayai 5 proyek besar Karawang yang sedang digodok pemerintah saat ini.

Hanya itu?

No.

Aku baca jurnal penelitian kandidat doktor sebuah perguruan tinggi di Jakarta tahun 2012 yang mengambil tema “Kontribusi sektor  perumahan terhadap perekonomian nasional”. Menurutnya, setiap investasi Rp1 milyar per tahun di sektor perumahan akan menyerap tenaga kerja sebanyak 105 orang. Bayangkan jika terjadi investasi di Galuh Mas bernilai Rp42 triliun. Investasi sebesar itu akan menyerap tenaga kerja sebanyak 4,4 juta per tahun. Ini hanya dari sektor perumahan. Belum lagi dari segi hotel, ruko, perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, maupun waterpark. Angka akhirnya bisa lebih bombastis lagi.



Jika pernyataan tersebut kita kerucutkan, maka bisa dibilang Galuh Mas memiliki posisi strategis terhadap ekonomi nasional. Why?

Pertama, Galuh Mas berperan besar terhadap penerimaan negara melalui pajak. Ini terlihat dari besarnya PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dan PBB (Pajak Bumi Bangunan) yang disetorkan setiap tahunnya. Menurut Kementerian Keuangan, pajak merupakan sumber utama penerimaan negara. Pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran negara yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali.

Kedua, pembangunan Galuh Mas berimbas langsung terhadap sektor ekonomi lain. Berdasar riset, terdapat sedikitnya 175 produk industri yang terkait dengan sektor properti seperti Galuh Mas. Contohnya sektor industri baja, alumunium, pipa, semen, keramik, batu bata, genteng, kaca, cat, furniture, kayu, peralatan rumah tangga, alat kelistrikan, home appliances, gypsum, dan sebagainya.

Efek berantai ini ujungnya akan memengaruhi perkembangan ekonomi secara nasional. Kajian yang dilakukan Real Estate Indonesia (REI) dan Pusat Penelitian Universitas Indonesia terhadap data-data sepanjang tahun 2010, memberikan hasil bahwa kontribusi sektor properti ke Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 9,4%. Hal ini diaminkan Kementerian Perindustrian yang menyebut kontribusi sektor properti senilai US$75 miliar atau setara Rp700 triliun. Lebih jauh disebutkan, sektor properti di Indonesia memberi kenaikan sebesar 28% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.



Melihat semua fakta, data, riset, jurnal, dan seabrek pendukung valid lainnya, aku menutup perbincangan grup whatsapp malam itu (atau lebih tepatnya pagi itu, karena aku balesnya udah pagi juga) dalam beberapa baris pendek pesan.


Sementara untuk menutup postingan ini, aku akan bilang : wahai pembaca yang budiman dan budiwoman, ada yang mau ikut menjadi bagian dalam Jantung Karawang dan Nyawa Indonesia dengan invest beli properti di Galuh Mas?

Kalau aku sih, yes.

Komentar

Postingan Populer