Menakar Urgensi Pendidikan Nonformal bagi Kemajuan Indonesia


 Ada yang masih ingat pelajaran IPS di Sekolah Dasar tentang G8?

Berdasar definisi, The Group of Eight atau yang lebih dikenal dengan sebutan G8 merupakan kumpulan 8 negara maju dengan tingkat perekonomian terbesar di dunia, dengan kekayaan gabungan merepresentasikan lebih dari 62% total kekayaan bersih global atau setara dengan 280 trilyun dollar Amerika. Awalnya, G8 hanya beranggotakan negara Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang, Jerman, dan Italia. Pada tahun 1975, Kanada ikut bergabung. Rusia pun ikut bergabung pada tahun 1997 lalu kemudian disuspensi pada tahun 2013 karena alasan politik. Setelah Rusia tak lagi bergabung, G8 kini berubah menjadi G7.

Negara yang tergabung dalam G7 memiliki karakteristiknya masing-masing. Misalnya dalam hal sistem pemerintahan, struktur birokrasi, ataupun pengelolaan sumber daya alam. Namun biarpun terlihat berbeda, sejatinya semua negara tersebut memiliki benang merah yang sama : paradigma mereka terhadap pendidikan.

Ketujuh negara tersebut sepakat bahwa pendidikan sangat krusial bagi perkembangan negara mereka, sehingga mereka rela menggelontorkan dana yang besar bagi sektor pendidikan. Mereka meyakini investasi dalam pendidikan merupakan investasi terbesar dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). SDM yang berkualitas akan mampu mengembangkan teknologi guna memaksimalkan potensi suatu negeri. Pada akhirnya, potensi yang tergali maksimal akan memacu pertumbuhan ekonomi mikro dan makro yang juga maksimal dari negara tersebut. Negara G7 maju, karena pendidikan yang juga maju. Bahkan menurut riset yang dilakukan oleh OECD, seluruh anggota G7 berada pada peringkat 10 besar negara dengan tingkat pendidikan terbaik di dunia.


Nah sekarang, bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang terus belajar membenahi diri dari segala lini. Salah satunya pada aspek pendidikan. Berkaca dari negara G7, pemerintah Indonesia menyadari fundamentalnya pendidikan bagi kemajuan suatu negara. Maka dari itu, pemerintah bersedia menganggarkan dana pendidikan sekitar 20% dari total budget negara. Anggaran APBN yang besar diikuti dengan ekspektasi yang juga besar akan output yang baik. Namun sayang, kenyataan kadang tidak sesuai dengan hasil perhitungan di atas kertas. Riset teranyar yang dilakukan World Economic Forum menunjukkan bahwa human capital atau SDM Indonesia masih tercecer di peringkat ke-69 dari total 124 negara responden.


Jika hasil riset dianalisa, hasilnya jadi lebih memprihatinkan. Dengan anggaran pendidikan yang sama, SDM output pendidikan negara Vietnam memiliki kemampuan yang menggungguli Indonesia. Output pendidikan Indonesia yang kurang maksimal ini harus menjadi perhatian, karena merupakan indikasi dini kemajuan negeri yang tidak optimal.

Lantas, dimana letak kesalahan pendidikan Indonesia?


Untuk melahirkan pendidikan yang berkelanjutan dan mampu menjadi fondasi bagi SDM yang cakap di masa depan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya, pendidikan tidak boleh hanya sekadar ‘omong kosong’. Materi pelajaran jangan sekadar dipelajari, melainkan harus dipahami dan dimengerti. Materi yang diberikan harus applicable. Apa yang diajarkan haruslah apa yang benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan nyata. Jangan hanya teori. Selain itu, pendidikan harus mampu mempersiapkan soft skill peserta didik untuk memasuki dunia kerja di masa depan.


Ya, sekolah-sekolah di Indonesia memang memberi bekal informasi dalam jumlah besar. Namun kenyataannya, tidak semua peserta didik berhasil mengubah informasi yang telah disampaikan menjadi pengetahuan yang berguna bagi kehidupan nyata. Alasannya beragam. Mulai dari keterbatasan guru dan waktu, kurangnya sarana dan prasarana, sampai target yang tidak realistis. Tak hanya dari segi hard skill, segala keterbatasan dalam pendidikan jalur formal di Indonesia juga membuat soft skill peserta didik tak begitu terasah. Coba jawab. Berapa banyak sih sekolah yang mengajarkan soal empati pada anak didiknya?

Empati merupakan salah satu bagian dari communication skill. Salah satu jenis soft skill yang keberadaannya tidak kalah penting dari hard skill.

Maka kesimpulannya jelas, pendidikan yang diterima peserta didik lewat jalur formal sekolah tidak sepenuhnya mampu mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke dunia kerja dan benar-benar membangun negeri.


Mengakali keterbatasan pendidikan yang diberikan di sekolah, pemerintah telah mengakui adanya jalur pendidikan lain yang bersifat melengkapi dan memperkaya pendidikan jalur formal.


Berdasar definisi yang dibuat oleh Undang-Undang, jalur pendidikan nonformal merupakan alternatif pendidikan yang dapat mengisi kekurangan pendidikan sekolah. Saya bahkan menemukan beberapa jurnal penelitian (I, II, III) yang menyebut dengan rinci fungsi dan esensi pendidikan nonformal yang bahkan salah satu diantaranya tidak dimiliki oleh pendidikan jalur formal.


Beberapa siswa bermasalah sebenarnya memiliki indikasi dini yang acapkali terlewatkan oleh pihak sekolah. Kita ambil contoh dalam hard skill logika berhitung, yang pastinya menjadi tuntutan utama yang harus dimiliki pekerja masa depan. Dalam hal ini, sekolah baru menyadari seorang anak bermasalah dengan pelajaran eksak dan hitung-hitungan sesudah nilai rapor matematikanya keluar. Padahal, dalam proses belajar mengajar keseharian tentu si anak sudah menunjukkan tanda-tanda kesulitan menghitung.

Disinilah letak strategis pendidikan nonformal bermain. Les dan Bimbel memiliki rasio guru dan siswa yang lebih ideal, sehingga masalah yang dialami oleh peserta didik bisa dideteksi lebih cepat.


Sekolah memberikan target yang sama bagi setiap peserta didik. Padahal, kecerdasan setiap anak berbeda. Ada yang pintar melukis namun tak pandai berhitung. Ada yang pandai menulis tapi tak pandai olahraga. Ada juga yang beruntung karena pandai di semua bidang.


Disinilah perbedaan pendidikan jalur nonformal berada. Les dan Bimbel menyediakan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk menyalurkan bakat dan minatnya masing-masing, sehingga akan tercapai hasil belajar sesuai kemampuan. Dengan demikian, kecerdasan setiap peserta didik akan terasah dan pada akhirnya SDM output akan memiliki hard skill spesifik sesuai permintaan pasar.



Dunia terus berubah. Siapa yang lambat akan tertinggal.

Maka untuk menjadi negara yang maju, diperlukan perubahan pola pikir yang lebih cerdas dan kreatif dari para penduduknya. Dalam hal ini, Les dan Bimbel akan membantu peserta didik melalui dua hal. Pertama, memberi bantuan dan support motivasi untuk survive di sekolah yang kurikulumnya terus mengalami revisi. Kedua, untuk memberi sudut pandang baru berupa rumus cepat, cara penyelesaian kreatif, ataupun informasi teraktual dari suatu materi pelajaran.


Keterbatasan yang dimiliki sekolah memaksanya untuk tidak bisa memberikan perbaikan yang maksimal bagi peserta didik, baik dari segi akademis maupun non akademis. Hal ini bisa dibantu oleh lembaga pendidikan nonformal. Misalnya melalui pelayanan konsultasi mandiri atau penanganan khusus materi tertinggal. Bahkan saat ini, lembaga pendidikan nonformal tak hanya membantu peserta didik secara akademis saja. Beberapa lembaga nonformal menyediakan tenaga ahli psikologi untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah non-akademik, membantu peserta didik menemukan passion hidupnya, atau hanya sekadar menjadi teman curhat yang solutif.


Semangat dan ambisi positif peserta didik harus dipelihara dan dijaga agar tidak hilang. Sedangkan kemampuan harus senantiasa dikembangkan agar peserta didik siap menghadapi tantangan global di masa depan. Seringnya, sekolah memiliki seabrek tetek bengek administrasi yang harus diurus sehingga perihal semangat dan perkembangan peserta didik luput dari perhatian.

Hal ini dapat dibantu oleh les dan bimbel. Lembaga pendidikan nonformal ini sifatnya student-oriented alias hanya berfokus pada siswa, tanpa banyak beban administrasi. Dengan demikian, peserta didik akan lebih terurus dan terbantu.


Menyadari esensinya yang begitu krusial, banyak pihak kemudian berlomba lomba mendirikan lembaga pendidikan nonformal. Saat ini, keberadaan lembaga bimbingan belajar bak cendawan di musim hujan. Banyak sekali kuantitasnya. Tapi, apakah semua memiliki kualitas yang sama?

Jawabannya : TIDAK. Dengan huruf kapital yang ditulis tebal. TIDAK.

Beberapa lembaga nonformal hanya memberi iming-iming dan mimpi manis. Beberapa yang lain hanya jadi ajang bisnis, tidak memberi manfaat sedikit pun bagi peserta didik. Buang buang duit doang cuy!

Jadi, bagaimana cara memilih lembaga pendidikan nonformal terbaik?

Gampang! Semua lembaga terbaik tergabung dalam satu tempat : EduCenter. EduCenter sendiri merupakan mall edukasi pertama dan terbesar di Indonesia yang lahir sebagai jawaban dari masalah klise terbuangnya waktu dan energi untuk berpindah-pindah dari satu kursus ke kursus lainnya. EduCenter saat ini menaungi lebih dari 20 tenant yang bergerak di dunia pendidikan nonformal. Tenant atau lembaga yang bergabung dipastikan tersertifikasi dan bahkan beberapa diantaranya pernah menyabet penghargaan tingkat nasional. Kita jadi tak perlu khawatir dengan mutu lulusan pendidikan nonformal di EduCenter. Hard skill dan soft skill peserta didik pasti dapat tergali dengan sempurna.


EduCenter merupakan pionir dalam dunia pendidikan nonformal. Konsep cerdas One Stop Education Of Excellence yang dibawakannya terbukti menjadi solusi yang solutif dalam membantu peserta didik menggali potensi terbaiknya. Saya tidak akan heran jika ada pihak yang mengatakan dunia pendidikan kita berhutang terimakasih pada EduCenter.


Esensi dari pendidikan nonformal di Indonesia sejatinya merupakan pelengkap dari pendidikan formal sekolah. Namun tidak semua lembaga nonformal bagus. Yang terbaik bisa ditemukan di #EduCenter. Kolaborasi antara pendidikan jalur formal sekolah dengan pendidikan nonformal dibawah naungan EduCenter, beserta peran keluarga yang kuat, akan membidani lahirnya SDM tangguh yang cakap dan cerdas dalam menaklukan tantangan global di masa depan. SDM yang baik akan menjadi tokoh dalam pembangunan negeri. Sehingga pada akhirnya, cita-cita besar bangsa untuk menjadi negara yang maju pun akan bisa tercapai.


Komentar

Postingan Populer