Kompor Rinnai : Benda Kenanganku yang Tak Lekang Dimangsa Zaman
Belum lama ini, aku dimintai tolong oleh Sekar untuk
mengisi survey tesis yang isinya kurang lebih mengenai “Benda Kenangan sebagai
Terapi Pengasah Otak Anti-Pikun”. Ada banyak pertanyaan yang diajukan disitu.
Salah satunya adalah benda yang menemani perjalanan hidupku selama minimal 8
tahun lamanya dan masih tetap ada sampai saat ini. Jawabanku atas pertanyaan
itu lumayan banyak. Novel Sherlock Holmes yang kurang lengkap karena hilang satu
case, pensil mekanik hijau bergagang
gompal yang kupakai saat Ujian Nasional dan SBMPTN, album foto yang kubeli di
BXChange sejak SD kelas 6 dan belum juga penuh terisi sampai detik ini, ringkasan
rumus yang kubuat sejak SMA kelas 11 dan masih terpakai sampai saat aku
mengajar sekarang, kipas tangan yang kudapat dari pensi, dan yang terakhir
adalah kompor Rinnai yang bahkan tipenya saja aku sudah lupa saking lamanya aku
beli dulu.
![]() |
| KOMPOR RInnai milikku |
Karena saat menjawab pertanyaan survey tersebut aku bak menyusuri
lorong-lorong memori, berikut akan aku tuliskan hal apa saja yang telah kulalui
bersama salah satu benda kenangan legendaris yang tak lain dan tak bukan adalah
kompor gas Rinnai. Hal ini adalah caraku men-selebrasi serpihan kenangan lampau yang mampir di ingatan. Oh iya!
Sebagai catatan, kompor Rinnai adalah benda kenangan yang telah menemani tiga
periode besar dalam hidupku : masa SMA, era kuliah, dan kehidupan pasca kampus dari
awal bekerja hingga sekarang tahun keempatku menjadi guru.
Aku sungguh ingat waktu itu pulang sekolah dan aku merasa
amat lapar. Berhubung ibuku belum pulang kerja sementara uang jajanku sudah
habis, jadilah aku makan kurma yang notabene nya tersedia gratis di rumah. Selesai
makan kurma, aku meninggalkan dapur untuk menonton TV. Setelah berulang kali
berganti channel TV, aku kembali lagi
ke dapur untuk mengambil minum. Disinilah tragedi dimulai.
Diatas kompor Rinnai ku yang glossy, aku menatap sebutir kurma bertengger. Aku pun segera
bergegas menjulurkan tangan maksud hati hendak membuang kurma yang jatuh
tersebut. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. KURMANYA TERBANG
KE ARAHKU! Aku pun menjerit jerit tak karuan mendapati nasib bertemu kurma
terbang yang rupanya merupakan serangga berkaki enam. Adikku yang mendengar
teriakanku segera datang guna membunuh kecoak tersebut dengan sapu. Walau
adegan pembunuhan agak brutal, kompor Rinnai yang dilapisi bahan ceflon tetap
tegar tak tergores. Dan senangnya lagi, sama seperti bekas noda minyak atau
tumpahan masakan, TKP pembunuhan kecoak di kompor Rinnai tinggal dilap saja
supaya bersih kembali. Dudukan kualinya pun bisa dilepas pasang untuk
memastikan seluruh bagian kompor bersih dilap adikku. Hehe senangnya menjadi seorang kakak, tinggal tunjuk maka semua
beres dikerjakan adik (sambil bersungut-sungut).
Ngomong-ngomong sampai saat artikel ini ditulis, baik body maupun tatakan kuali kompor Rinnai
ku masih aman terkendali tak berkarat atau terkelupas. Luar biasa memang kompor
Rinnai ini!
Masih berada di periode yang sama, anekdot ini terjadi ketika
aku masih sekolah. Kala itu, aku mendapat tugas membuat makalah tentang global warming. Hasil risetku mendapati
fakta gas sisa hasil pembakaran merupakan salah satu faktor yang menyebabkan
suhu bumi ini meningkat. Setelah mendengar hasil presentasiku di kelas mengenai
hal ini, temanku bertanya dengan sengit “Lah, kompor juga dong? Kan ada api ada
asap.”
Hayoo, pembaca
tahu gak jawabannya? Ikut berperan
atau gak nih?
Jawabannya : tergantung kompor. Seriusan!
Kompor Rinnai ramah lingkungan karena emisi karbonnya
kecil, hanya sekitar 0,04% saja. Jumlah ini sangat sedikit jika dibandingkan
dengan total karbon yang ada di ozon. Kesimpulannya, walau memasak lama dan
banyak dengan kompor Rinnai, kita tidak menyumbang sisa pembakaran yang
sebegitu signifikan sampai bisa dikatakan memiliki andil dalam pemanasan
global.
Masih tentang kompor dan gerakan cinta bumi nih. Kompor merk Rinnai menghasilkan
panas merata sehingga masakan cepat matang. Hal ini menyebabkan efisiensi
energi tinggi. Efisiensi ini berbanding terbalik dengan konsumsi bahan bakar fossil.
Artinya, kompor Rinnai menjadi hemat bahan bakar alias hemat elpiji alias hemat
gas alam alias hemat listrik alias bisa saving
resource yang ada di bumi untuk
generasi anak cucu kita. Psst, hemat ini
juga berarti hemat pengeluaran bulanan loh!
Sebelum perkuliahan dimulai, almamaterku mengadakan serentetan
kegiatan khusus mahasiswa baru (maba) bernama Orientasi Kehidupan Kampus (OKK).
OKK ini terdiri dari tiga bagian. OKK tingkat universitas. OKK tingkat
fakultas. Dan terakhir OKK tingkat departemen. Isi kegiatan OKK berbeda-beda
untuk setiap tingkat, namun ada satu persamaan yang menyatukan ketiga kegiatan
tersebut : maba wajib membawa bekal untuk sarapan dan makan siangnya sendiri. Kegiatan
dimulai pukul setengah enam setiap harinya sedangkan rumahku berjarak 45 menit
sampai 1 jam perjalanan dengan motor. Tukang nasi uduk jam segitu mana ada yang
udah buka. Mau gak mau, harus masak
sendiri tiap hari cuy!
Seminggu pertama terlewati dengan baik. Minggu kedua pun
agak aman. Masalah muncul di hari Rabu minggu ketiga. KOMPOR AGAK MACET! Mungkin
selangnya kotor. Mungkin bagian ini harus diganti. Ada beberapa ‘mungkin’ yang
terlontar dari mulut tetangga saat itu. Tapi daripada salah langkah, mamaku
memutuskan menghubungi layanan konsumen Rinnai. Sebuah keputusan yang membuat
terpana kemudian.
Gimana enggak, layanan purna jual Rinnai tuh bagus banget!
Hari kamis siang, dua mas-mas teknisi datang kerumah untuk melakukan
pemeriksaan menyeluruh, service, dan
mengganti spare part dengan suku
cadang baru yang tentunya didesain sesuai standar JIS (Japan Industrial
Standard) serta sesuai standar SNI. Layanan ini free-of-charge karena rupanya garansi servis berlaku sampai 3
tahun, sedangkan untuk spare part dikenakan
biaya karena garansi hanya setahun. Sebelum mas-masnya pamit, mereka cerita
kalau khusus katup gas pihak Rinnai berani memberi garansi sampai 5 tahun.
Alhamdulillah. Penanganan pihak Rinnai yang tanggap
menjadikan aku tak perlu dimarahi senior karena tak bawa bekal makan. Aku bisa
berdiri dengan tenang dijemur di lapangan sembari melihat orang lain yang
dimarahi. Duhai nasibmu oh maba!
Sesudah memegang ijazah S1, aku justru tak benar-benar
merasa lega. Entah mengapa rasanya justru aku kehilangan sesuatu. Dan anehnya
lagi, aku bahkan tidak tahu apa yang hilang itu. Kelimbungan itu kubiarkan
begitu saja sampai sekitar 3 tahun lamanya.
Tahun lalu, aku secara tak sengaja menemukan apa yang
telah hilang itu. Rupanya hal tersbut adalah passion. Goal. Obsession atas sesuatu. Jadi ketika aku
masih menjadi peserta didik, aku punya target yang jelas tentang apa yang mau
kuraih dalam hidup. Hidupku punya orientasi. Segala pencapaian ini telah
ditentukan oleh pihak lain. Ketika lulus, aku lah yang harus mengatur hidupku
sendiri dan menentukan target personal
yang mau kucapai. Bukan orang lain.
Jadilah selama setahun terakhir aku membuat daftar
panjang achievement yang ingin
kugapai. Selain dimunajatkan, aku juga berusaha mengupayakan hal itu terjadi
dengan kedua tanganku sendiri. Beragam cara kutempuh demi menambahkan satu lagi
tanda ‘centang’ dalam daftarku tersebut. Turun ke dapur salah satunya.
Susah gak?
Jelas! Aku yang biasanya hanya memasak beragam penganan dalam bentuk makanan
siap saji (baca : masak mie instan
beraneka rasa) sekarang harus membiasakan diri dengan ayam mentah, daging
merah, dan tepung lengket. Yang biasanya selesai tak sampai 10 menit, sekarang
harus dipersiapkan sendiri sejak malam. Yang biasanya kalau lapar tinggal minta
makanan diantarkan ojek daring, sekarang harus menyingsingkan lengan baju
mengurus semuanya dari awal. Dari nangkep ikan hidup! Yaaaaa bukan ikan di laut
tapi ikan hidup di baskom pedagang pasar.
Alhamdulillah, kompor Rinnai membuat fase perjalanan itu
menjadi lebih mudah. Dudukan kuali Rinnai yang berlapis enamel begitu kokoh
membuat panci stabil dan frying pan gak
goyang-goyang. Ketika butuh masak dalam partai besar, body kompor yang terbuat dari stainless steel berkualitas membuat
aku bisa meletakkan beban sampai 50 kg diatasnya. Aku juga leluasa bergerak dan
bekerja kanan-kiri karena jarak dua tungku kompor begitu pas. Tak hanya itu, burner kompor Rinnai yang terbuat dari
kuningan dapat menyebarkan panas dengan lebih maksimal. Masakanku pun bisa
lebih cepat matang. Tentunya kalau sudah selesai masak, aku bisa memanfaatkan
waktu tersisa untuk melakukan hal lain demi tercapainya tick-all-the-boxes dalam daftarku.
Ketika sudah membagikan link survey tesis, aku mendapati bahwa aku bukan satu-satunya
individu yang memilih Rinnai menjadi benda kenangan dalam hidup. Rinnai yang
produknya beragam juga merupakan pilihan sepupuku yang tajir tapi gak melintir.
Dia memilih built-in-hob merk Rinnai.
Sementara Syafira Ranna, teman sejawatku yang hidupnya sungguh ekonomis dan ergonomis,
memilih kompor 1 tungku Rinnai. Lain halnya dengan Bu RT penghuni rumah
sebelah. Pilihannya jatuh pada pemanas air listrik milik Rinnai.
Selain yang sudah kesebutkan, Rinnai sebenarnya telah
menjadi ‘teman hidup’ jutaan orang di Indonesia. Memang,
#RinnaiPilihanGenerasiNow, #RinnaiPilihanGenerasiOld, dan
#RinnaiPilihanGenerasiAkanDatang. Hal ini adalah fakta, bukan cerita yang
diturunkan dari ibu ke anaknya saja apalagi sekadar gosip di akun bergambar
mulut di instagram.
Dan
selayaknya fakta, #RinnaiPilihanGenerasiNow diperkuat oleh beberapa argumen
valid. Pertama, merk dagang Rinnai telah bertahan selama sekitar 30 tahun dan
tidak meredup sampai saat ini. Kedua, volume demand yang terus meningkat. Di Indonesia sendiri, porsi pembelian
dari pelanggan terhadap Rinnai saat ini mencapai 70%-80%. Karena permintaan
pasar lokal Indonesia yang terus merangsek naik akan produk kompor gas, PT
Rinnai Indonesia membangun pabrik kedua di Balaraja Tangerang di atas lahan
seluas 15,8 hektar. Ketiga, Rinnai berhasil memenangkan banyak award. Beberapa diantaranya adalah
Indonesian Customer Satisfication Award (ICSA) 2008-2013, Best Brand Platinum
2012 dan 2013, No.1 Choice Award For Indonesian Women Survey 2012 dan 2013,
Indonesia's Most Favourite Women Brand 2012, iDea Rumah Award Reader's Choice
2014 untuk kategori Kitchen Appliances dan Water Heater.
Sesuai judul tesis temanku, benda kenangan memang menarik
untuk dicermati. Setelah menulis artikel ini aku jadi menyadari betapa kompor
Rinnai menjadi saksi bisu perjalanan hidupku dan awet menemani lebih dari sepertiga
umurku. Harapanku, Rinnai bisa menjaga kualitas diri sehingga setelah 100 tahun
lagi akan muncul generasi yang menuliskan produk Rinnai sebagai benda kenangan yang
masih setia membersamai hidupnya.
Referensi Tulisan
https://www.rinnai.co.id/faq/
https://food.detik.com/info-kuliner/d-4225976/ini-kompor-gas-paling-laris-yang-jadi-idola-para-ibu
https://finance.detik.com/industri/d-4215124/rinnai-serius-garap-pasar-indonesia
https://finance.detik.com/industri/d-4212978/mengintip-dapur-produksi-rinnai-yang-kualitasnya-dijaga-98-tahun
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4211354/melihat-pabrik-rinnai-kompor-yang-sudah-30-tahun-ada-di-dapur-ri
https://finance.detik.com/industri/d-4214575/jurus-hiroyasu-naito-pertahankan-kualitas-rinnai-di-pasar-global
Referensi Gambar
Gambar kompor dokumentasi pribadi
Freepik










Komentar
Posting Komentar